Kejadian 1:26, “… menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita….”
Istilah Manusia (Ibrani: Adam) adalah istilah kolektip. Pengertian Adam dalam ayat ini bukanlah perseorangan seperti pemakaian dalam pasal 2. Melainkan adalah istilah umum kemanusiaan yang merujuk pada kesatuan manusia. Allah menciptakan manusia menurut rencana-Nya; menurut gambar dan rupa Allah. Istilah ini tidak pernah dipakai untuk makhluk yang lain di samping manusia. Menandakan perbedaan antara manusia dengan binatang.
Analisa Konteks Budaya
Kata-kata yang dipakai yaitu gambar (selem) dan rupa (demuth) menunjuk kepada bentuk lahiriah. Dalam konteks sosial Timur Dekat kuno ‘gambar’ bisa dimaksudkan sebagai bentuk fisik yang mewakili kehadiran seorang penguasa. Ketika seorang raja menguasai wilayah di luar kerajaannya, kehadirannya secara fisik di wilayah itu bisa di wakili dengan tselem berupa patung dirinya yang ditaruh di daerah itu. Patung itu bukan raja sebenarnya, melainkan bisa di pandang sebagai representasi kehadirannya di suatu wilayah. Berdasarkan analogi ini mengatakan manusia adalah bentuk fisik daripada Allah itu sendiri.
Pendekatan Makna Dalam Ayat
Pertama, manusia mempunyai hubungan atau nisbah yang khusus dengan Allah. Menurut ayat 28, Allah berfirman kepada manusia. Allah mau bergaul dengan manusia dan Allah mengharapkan ada respon sebagai makhluk yang bertanggungjawab kepada Allah. Kedua, manusia mempunyai hubungan khusus dengan sesamanya. Menurut ayat 27; manusia adalah berlainan dari binatang, bukan terdiri dari beberapa jenis, tetapi dalam jenis itu ia laki-laki dan perempuan. Manusia tidak pernah seorang diri, tetapi selalu berhubungan dengan sesamanya. Hubungan yang khusus itu tampak dengan jelas dalam pernikahan antara laki-laki dengan perempuan. Ketiga, manusia mempunyai hubungan khusus dengan makhluk-makhluk lain. Allah memberi tugas kepada manusia, ayat 28; untuk memenuhi dan menaklukkan bumi. Manusia menerima berkat dari Allah, yakni manusia mendapat tugas dan kekuatan untuk melaksanakan mandat.
Kesimpulan
Tersirat bahwa manusia di tunjuk oleh Allah untuk berkuasa sepenuhnya atas bumi, atau dengan kata lain manusia diangkat sebagai raja di bumi. Hal ini manusia menurut gambar dan rupa Allah. Seperti Allah adalah raja atas langit dan bumi, demikianlah manusia adalah raja atas bumi. Manusia adalah wakil Allah untuk berkuasa dan menaklukkan bumi berserta isinya.
Senin, 06 Februari 2012
KONSEP LEVIRAT
KONSEP LEVIRAT
Defenisi
Kata levirat berasal dari bahasa Latin yaitu levir yang berarti saudara si suami. Sedangkan di dalam bahasa Ibrani kata ini ditulis dengan yabam: saudara suaminya. Dalam terjemahan baru Alkitab diartikan melakukan kewajiban perkawinan ipar. Juga kata levirat telah di indonesiakan oleh beberapa teolog dengan mengistilahkannya dengan kata perkawinan anggan, perkawinan ipar, atau istilah turun ranjang. Semua istilah ini mempunyai makna yang sama. Jadi, kata ini bisa diartikan sebagai satu kewajiban atau tugas yang harus dilakukan oleh seorang laki-laki jika saudaranya meninggal dan tidak memiliki keturunan maka ia akan menikah dengan perempuan tersebut . Disebut sebagai kewajiban atau tugas karena sudah menjadi ketentuan dalam sistim perkawinan kebiasaan bangsa Israel dan dituntut di dalam undang-undang alkitabiah yang berlaku dalam setiap keluarga.
Prasyarat
Konsep Alkitab
• Bahwa seorang laki-laki meninggal tanpa anak yang meninggalkan seorang istri dan dengan demikian tidak memiliki pewaris yaitu anak dari hubungan suami istri. Istrinya yang berstatus janda wajib melakukan perkawinan ipar dengan saudara suaminya.
• Perempuan yang telah ditinggal mati oleh suaminya, tidak diperkenankan untuk kawin dengan orang lain. Orang lain yang dimaksud adalah orang diluar marga almarhum suaminya. Ulangan 25:5 “....maka janganlah isteri orang yang mati itu kawin dengan orang di luar lingkungan keluarganya”.
• Perkawinan ipar ini sifatnya mengikat antara perempuan dengan keluarga suaminya (saudara-saudara laki-laki dan ayah). Ulangan 25:5 “....saudara suaminya haruslah menghampiri dia dan mengambil dia menjadi isterinya...”
• Ulangan 25:5 “... orang-orang bersaudara tinggal bersama-sama...” Peraturan tentang perkawinan ipar berlaku hanya dalam keadaan, dimana anak-anak laki-laki yang sudah menikah tetap tinggal, beserta dengan isteri dan anak-anaknya bersama-sama dengan orang tuanya sebagai satu keluarga besar.
Konsep Go’el (penebus)
Goel (go'el) adalah istilah Ibrani yang berasal dari kata gal'al ("untuk menebus"), maka berarti "penebus", yang dalam Alkitab dan rabbi tradisi menunjukkan seseorang yang sebagai relatif terdekat lain dibebankan dengan tugas memulihkan hak-hak lain dan balas dendam kesalahannya. Kewajiban Goel termasuk kewajiban untuk menebus relatif dari perbudakan , jika yang terakhir telah diwajibkan untuk menjual dirinya ke perhambaan (Imamat 25: 48-49), untuk membeli kembali milik seorang kerabat yang terpaksa menjualnya karena kemiskinan; untuk membalas darah saudaranya, untuk menikahi janda saudaranya untuk memiliki anak untuk saudaranya.
Konsep Halizah
Halizah (atau Chalitzah; Ibrani : חליצה) adalah upacara dimana seorang janda dan adik suaminya bisa menghindari kewajiban untuk menikah setelah kematian suaminya. Upacara melibatkan melepas kasut kakak ipar dengan janda dari seorang saudara yang telah meninggal tanpa anak, di mana upacara dia dibebaskan dari kewajiban menikahinya, dan dia menjadi bebas untuk menikah siapa saja yang dia inginkan ( Ulangan 25 :5-10 ). Hanya satu kakak ipar perlu melakukan upacara. Kebiasaan lama dari pernikahan turun ranjang ( Kejadian 38:8 ) dengan demikian dimodifikasi dalam kode Deuteronomis, dengan mengijinkan saudara yang masih hidup untuk menolak untuk menikahi janda saudaranya, asalkan ia tunduk kepada upacara Halizah. Ulangan 25:7-10.
Secara teori, bagaimanapun, hukum Alkitab pernikahan turun ranjang masih dianggap berlaku, dan dalam upacara halizah, anggapan adalah bahwa saudara ipar membawa aib pada diri sendiri dan kepada keluarganya dengan menolak untuk menikahi janda saudaranya.
Konsep di luar Alkitab
Perkawinan ipar tidak terbatas kepada Israel, melainkan tersebar beberapa negara di Asia-Afrika dan Amerika Selatan. Peraturannya dan pelaksanaannya pun tidak terlalu berbeda jauh dengan konsep Alkitab, antara lain;
• Jika isteri seorang pria meninggal, kemudian dia menikah dengan adik isterinya, maka dia tidak dianggap bersalah
• Jika seorang pria sudah beristri, kemudian pria itu meninggal, maka adiknya akan mengambil isteri itu. Danberikutnya jika adik itu meninggal, hendaklah ayahnya itu mengambil isteri tersebut. Jika selanjutnya ayah itu meninggal, hendaklah anak adik almarhum mengambil istri itu. Orang yang berbuat demikian dianggap tidak bersalah.
Tujuan Perkawinan Ipar
• Melestarikan nama dan marga almarhum di Israel, Ulangan 25:6. Sistim perkawinan ipar tersangkut erat dengan soal memelihara nama saudara, supaya nama itu jangan terhapus dari antara orang Israel. Alasan ini berakar dalam adat dan alam pemikian kuno. Prinsip pelestarian nama anggota-anggota keluarga Israel tergambar dalam Hak. 21:3. Prakteknya, anak sulung dari perkawinan ipar ini, haruslah dianggap sebagai anak saudara yang sudah mati, agar nama itu jangan terhapus.
• Mengatur kesejahteraan janda. Pernikahan turun ranjang berfungsi sebagai perlindungan bagi janda, memastikan bahwa mereka memiliki penyedia laki-laki bertanggung jawab bagi mereka. Praktek ini sangat penting dalam masyarakat kuno (misalnya, Israel dan Timur Dekat ), dan tetap dilakukan sampai hari ini di beberapa bagian dunia. Sebuah pernikahan turun ranjang hanya mungkin terjadi jika seorang pria meninggal tanpa anak, dalam rangka untuk melanjutkan garis keluarganya.
• Menjaga agar tanah warisan si almarhum tetap di dalam lingkungan keluarga. Sesuai dengan undang-undang kepemilikan tanah mengatur bahwa si pemilik harus tetap bagian dari keluarga dan tidak boleh diasingkan. Bagian dari keluarga maksudnya adalah anak atau keturunan (laki-laki ataupun perempuan) dari si pemilik tanah sebelumnya. Setiap keluarga dan keturunan segaris mempunyai warisannya sendiri. Karena alasan inilah perkawinan ipar harus dilaksanakan.
Contoh Perkawinan Ipar
• Berkaitan dengan Yehuda dan Tamar (Kejadian 38:6-26). Tamar membujuk ayah mertuanya, Yehuda, untuk memberikan levirat baginya setelah Er, suaminya anak tertua Yehuda mati. Onan, anak kedua Yehuda tidak mau memenuhi kewajiban sebagai seorang levir. Yehuda kemudian mencegah Syela, anak bungsunya untuk memenuhi levirat. Akhirnya Tamar menyamar sebagai seorang pelacur dan menutupi mukanya dengan telekung atau cadar, mengakali mertuanya laki-laki, Yehuda, supaya melakukan hubungan seks dengan dirinya. Sebagai hasilnya, Tamar melahirkan anak kembar, Peres dan Zerah.
• Melibatkan Boas dan Rut, sebenarnya ada famili dekat dari suaminya yang akhirnya mundur untuk memenuhi peranan levir. Di dalam kisah ini ada pertemuan tiga konsep kunci alkitabiah: levirat, genealogi, dan warisan. Boas, sebagai seorang kerabat jauh, memenuhi levirat dengan menikahi Rut sehingga mengabadikan nama suaminya, Mahlon. Pada saat yang sama, Boas juga menebus properti keluarga.
Kepustakaan
I.J.Cairns, Tafsiran Alkitab; Ulangan 2, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986)
Isak Suria, Kitab Kejadian, (Malang: GTI Bukit Zaitun, 2006)
Isak Suria, Kitab Pentateukh, (tidak diterbitkan: Surabaya: Sekolah Teologia Tertulis GPPS, 1999)
King, Philip J. & Lawrence E. Stager, Kehidupan Orang Israel Alkitabiah, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010).
Wolf, Herbert, Pengenalan Pentateukh, (Malang: Gandum Mas, 2004)
Artikel internet
Defenisi
Kata levirat berasal dari bahasa Latin yaitu levir yang berarti saudara si suami. Sedangkan di dalam bahasa Ibrani kata ini ditulis dengan yabam: saudara suaminya. Dalam terjemahan baru Alkitab diartikan melakukan kewajiban perkawinan ipar. Juga kata levirat telah di indonesiakan oleh beberapa teolog dengan mengistilahkannya dengan kata perkawinan anggan, perkawinan ipar, atau istilah turun ranjang. Semua istilah ini mempunyai makna yang sama. Jadi, kata ini bisa diartikan sebagai satu kewajiban atau tugas yang harus dilakukan oleh seorang laki-laki jika saudaranya meninggal dan tidak memiliki keturunan maka ia akan menikah dengan perempuan tersebut . Disebut sebagai kewajiban atau tugas karena sudah menjadi ketentuan dalam sistim perkawinan kebiasaan bangsa Israel dan dituntut di dalam undang-undang alkitabiah yang berlaku dalam setiap keluarga.
Prasyarat
Konsep Alkitab
• Bahwa seorang laki-laki meninggal tanpa anak yang meninggalkan seorang istri dan dengan demikian tidak memiliki pewaris yaitu anak dari hubungan suami istri. Istrinya yang berstatus janda wajib melakukan perkawinan ipar dengan saudara suaminya.
• Perempuan yang telah ditinggal mati oleh suaminya, tidak diperkenankan untuk kawin dengan orang lain. Orang lain yang dimaksud adalah orang diluar marga almarhum suaminya. Ulangan 25:5 “....maka janganlah isteri orang yang mati itu kawin dengan orang di luar lingkungan keluarganya”.
• Perkawinan ipar ini sifatnya mengikat antara perempuan dengan keluarga suaminya (saudara-saudara laki-laki dan ayah). Ulangan 25:5 “....saudara suaminya haruslah menghampiri dia dan mengambil dia menjadi isterinya...”
• Ulangan 25:5 “... orang-orang bersaudara tinggal bersama-sama...” Peraturan tentang perkawinan ipar berlaku hanya dalam keadaan, dimana anak-anak laki-laki yang sudah menikah tetap tinggal, beserta dengan isteri dan anak-anaknya bersama-sama dengan orang tuanya sebagai satu keluarga besar.
Konsep Go’el (penebus)
Goel (go'el) adalah istilah Ibrani yang berasal dari kata gal'al ("untuk menebus"), maka berarti "penebus", yang dalam Alkitab dan rabbi tradisi menunjukkan seseorang yang sebagai relatif terdekat lain dibebankan dengan tugas memulihkan hak-hak lain dan balas dendam kesalahannya. Kewajiban Goel termasuk kewajiban untuk menebus relatif dari perbudakan , jika yang terakhir telah diwajibkan untuk menjual dirinya ke perhambaan (Imamat 25: 48-49), untuk membeli kembali milik seorang kerabat yang terpaksa menjualnya karena kemiskinan; untuk membalas darah saudaranya, untuk menikahi janda saudaranya untuk memiliki anak untuk saudaranya.
Konsep Halizah
Halizah (atau Chalitzah; Ibrani : חליצה) adalah upacara dimana seorang janda dan adik suaminya bisa menghindari kewajiban untuk menikah setelah kematian suaminya. Upacara melibatkan melepas kasut kakak ipar dengan janda dari seorang saudara yang telah meninggal tanpa anak, di mana upacara dia dibebaskan dari kewajiban menikahinya, dan dia menjadi bebas untuk menikah siapa saja yang dia inginkan ( Ulangan 25 :5-10 ). Hanya satu kakak ipar perlu melakukan upacara. Kebiasaan lama dari pernikahan turun ranjang ( Kejadian 38:8 ) dengan demikian dimodifikasi dalam kode Deuteronomis, dengan mengijinkan saudara yang masih hidup untuk menolak untuk menikahi janda saudaranya, asalkan ia tunduk kepada upacara Halizah. Ulangan 25:7-10.
Secara teori, bagaimanapun, hukum Alkitab pernikahan turun ranjang masih dianggap berlaku, dan dalam upacara halizah, anggapan adalah bahwa saudara ipar membawa aib pada diri sendiri dan kepada keluarganya dengan menolak untuk menikahi janda saudaranya.
Konsep di luar Alkitab
Perkawinan ipar tidak terbatas kepada Israel, melainkan tersebar beberapa negara di Asia-Afrika dan Amerika Selatan. Peraturannya dan pelaksanaannya pun tidak terlalu berbeda jauh dengan konsep Alkitab, antara lain;
• Jika isteri seorang pria meninggal, kemudian dia menikah dengan adik isterinya, maka dia tidak dianggap bersalah
• Jika seorang pria sudah beristri, kemudian pria itu meninggal, maka adiknya akan mengambil isteri itu. Danberikutnya jika adik itu meninggal, hendaklah ayahnya itu mengambil isteri tersebut. Jika selanjutnya ayah itu meninggal, hendaklah anak adik almarhum mengambil istri itu. Orang yang berbuat demikian dianggap tidak bersalah.
Tujuan Perkawinan Ipar
• Melestarikan nama dan marga almarhum di Israel, Ulangan 25:6. Sistim perkawinan ipar tersangkut erat dengan soal memelihara nama saudara, supaya nama itu jangan terhapus dari antara orang Israel. Alasan ini berakar dalam adat dan alam pemikian kuno. Prinsip pelestarian nama anggota-anggota keluarga Israel tergambar dalam Hak. 21:3. Prakteknya, anak sulung dari perkawinan ipar ini, haruslah dianggap sebagai anak saudara yang sudah mati, agar nama itu jangan terhapus.
• Mengatur kesejahteraan janda. Pernikahan turun ranjang berfungsi sebagai perlindungan bagi janda, memastikan bahwa mereka memiliki penyedia laki-laki bertanggung jawab bagi mereka. Praktek ini sangat penting dalam masyarakat kuno (misalnya, Israel dan Timur Dekat ), dan tetap dilakukan sampai hari ini di beberapa bagian dunia. Sebuah pernikahan turun ranjang hanya mungkin terjadi jika seorang pria meninggal tanpa anak, dalam rangka untuk melanjutkan garis keluarganya.
• Menjaga agar tanah warisan si almarhum tetap di dalam lingkungan keluarga. Sesuai dengan undang-undang kepemilikan tanah mengatur bahwa si pemilik harus tetap bagian dari keluarga dan tidak boleh diasingkan. Bagian dari keluarga maksudnya adalah anak atau keturunan (laki-laki ataupun perempuan) dari si pemilik tanah sebelumnya. Setiap keluarga dan keturunan segaris mempunyai warisannya sendiri. Karena alasan inilah perkawinan ipar harus dilaksanakan.
Contoh Perkawinan Ipar
• Berkaitan dengan Yehuda dan Tamar (Kejadian 38:6-26). Tamar membujuk ayah mertuanya, Yehuda, untuk memberikan levirat baginya setelah Er, suaminya anak tertua Yehuda mati. Onan, anak kedua Yehuda tidak mau memenuhi kewajiban sebagai seorang levir. Yehuda kemudian mencegah Syela, anak bungsunya untuk memenuhi levirat. Akhirnya Tamar menyamar sebagai seorang pelacur dan menutupi mukanya dengan telekung atau cadar, mengakali mertuanya laki-laki, Yehuda, supaya melakukan hubungan seks dengan dirinya. Sebagai hasilnya, Tamar melahirkan anak kembar, Peres dan Zerah.
• Melibatkan Boas dan Rut, sebenarnya ada famili dekat dari suaminya yang akhirnya mundur untuk memenuhi peranan levir. Di dalam kisah ini ada pertemuan tiga konsep kunci alkitabiah: levirat, genealogi, dan warisan. Boas, sebagai seorang kerabat jauh, memenuhi levirat dengan menikahi Rut sehingga mengabadikan nama suaminya, Mahlon. Pada saat yang sama, Boas juga menebus properti keluarga.
Kepustakaan
I.J.Cairns, Tafsiran Alkitab; Ulangan 2, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986)
Isak Suria, Kitab Kejadian, (Malang: GTI Bukit Zaitun, 2006)
Isak Suria, Kitab Pentateukh, (tidak diterbitkan: Surabaya: Sekolah Teologia Tertulis GPPS, 1999)
King, Philip J. & Lawrence E. Stager, Kehidupan Orang Israel Alkitabiah, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010).
Wolf, Herbert, Pengenalan Pentateukh, (Malang: Gandum Mas, 2004)
Artikel internet
SEKOLAH TINGGI ALKITAB SURABAYA (STAS)
![]() |
Sekolah
Tinggi Alkitab Surabaya (STAS) berdiri pada tahun 1998. STAS didirikan
oleh Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jemaat Bibis Sawahan dan
berada di bawah naungan Yayasan Gereja Pantekosta Bibis Sawahan, yang
bermitra dan bersinergi dengan Mejelis Pusat GPPS. STAS berdiri untuk
menjawab kebutuhan hamba Tuhan yang dapat melayani dengan baik dan
berkualitas di gereja maupun lembaga-lembaga Kristen.
STAS menjadi anggota
Persekutuan Antar Sekolah Theologia Injili di Indonesia (PASTI), dan
telah terdaftar di Ditjen Bimas Kristen Protestan (DEPAG) RI Jakarta
No. 16/1991. Diakreditasi oleh Menteri Agama dengan SK Menteri Agama RI,
No. 398/2003. Sampai dengan tahun 2005 STAS telah meluluskan lebih dari
250 alumnus yang melayani di berbagai denominasi gereja, lembaga
pendidikan, lembaga misi atau lembaga Kristen lainnya.
-
- VISI
- Menjadi sekolah tinggi teologia Injili dan interdenominasi berstandar nasional, yang memiliki keunggulan kompetitif dalam bidang teologi dan terampil dalam pelayanan
- MISI
- Menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran yang memiliki keunggulan kompetitif dalam bidang teologi
- Menyelenggarakan penelitian yang memiliki keunggulan kompetitif dalam bidang teologi
- mempersiapkan Hamba Tuhan yang siap pakai dan terampil melayani dalam dunia teologia, gereja, dan masyarakat kristiani pada umumnya.
-
-
- STAS percaya bahwa Alkitab adalah firman Allah tanpa salah dan menjadi otoritas utama bagi iman dan kehidupan Kristen. STAS terpanggil untuk mendidik hamba Tuhan yang memiliki keyakinan Pentakosta/Kharismatik-Injili yang mampu melayani pekerjaan Tuhan di bidang penginjilan, dan pastoral serta mengembangkan jemaat yang misioner, transformis dan mand...
-
- Program pendidikan di STAS memiliki tujuan untuk :
- Mempersiapkan Pemimpin yang berwawasan Pentakostal atau Kharismatik-Injili dan berkarakter Kristus.
- Mempersiapkan pemimpin yang mempunyai kemampuan pastoral (penggembalaan) dan menggunakan metode kepemimpinan yang Alkitabiah serta mampu mengantisipasi perkembangan yang terjadi.
- Mempersiapakan Pemimpin yang mampu mendirikan jemaat dan mengembangkannya menjadi Jemaat yang misioner, transformis dan mandiri.
- SK Ditjen Bimas (Kristen) Protestan (Depag RI) Jakarta No. 16/1991 - Perpanjangan Ijin Operasional berbasis Epsbed: SK No. DJ. III/Kep/HK.00.5/20/2009 - Akreditasi status terdaftar dengan SK Menteri Agama RI No. 398/2003.
- Didirikan oleh GPPS Jemaat Bibis-Sawahan pada Agustus 1988, di bawah naungan Yayasan YGPBS, yang bermitra dan bersinergi dengan MP-GPPS
- Anggota PASTI No. 12/Angt/PASTI/1997
- Sampai dengan tahun 2008 STAS telah meluluskan lebih dari 350 alumni yang melayani di berbagai denominasi gereja, lembaga pendidikan, lembaga misi, atau lembaga kristen lainnya
///:mengenal_STAS....
TENTANG CINTA
CINTA
(sekilas tentang cinta)
Saya pernah membaca sebuah buku, yang menulis seperti seperti ini “mana yang paling dasyat? Ledakan percobaan nuklir bawah tanah, atau dentuman saat pesawat ulang alik lepas landas, atau sorak sorai milyaran penduduk dunia saat melewati jam 12 malam tengah malam tanggal 31 desember?...tak ada kekuatan yang lebih dasyat dari CINTA.”
Apa yang di katakana buku itu tidaklah salah, para ahli psikologi sepakat bahwa kebutuhan paling dasar manusia adalah, mencintai dan dicintai. Cinta bisa menjadi suatu daya dorong bagi tiap orang melakukan sesuatu, baik buruk ataupun menjadi lebih baik. Cinta memberi arti pada kehidupan manusia, menimbulkan harapan dan tujuan.
Dalam Alkitab ada 115 kali di sebutkan kata cinta, dalam Perjanjian Lama mungkin kita sangat mengenal kisah cinta Ishak dengan Ribka, dalam Kej 24:27,Lalu Ishak membawa Sara kekemah Sarah, ibunya,dan mengambil dia jadi istrinya. Ishak mencintainya dan demikian ia dihiburkan setelah ibunya meninggal.
Begitulah cinta pada dasarnya dalam kehidupan manusia, menghibur saat sedih, dan menguatkan saat kita melemah. Begitu juga kisah cinta antara Yakub dan Rahel, dalam Kej, 29:20 Yakub cinta kepada rahel sebab itu dia berkata, :”aku mau bekerja padamu selama tujuh tahun lamanya untuk mendapatkan Rahel, anakmu yang lebih muda itu.” Dalam ayat ini kita dapat mengerti bahwa cinta juga adalah pengorbanan, karena cintanya kepada Rahel, Yakub mau bekerja selama tujuh tahun kepada pamannya Laban. Dalam hal ini mungkin kita ada yang sudah mengalami, baik itu pengorbanan waktu, perasaan, atu mungkin materi.
Setiap orang punya pandangan berbeda tentang cinta, tentunya pandangan ini di pengaruhi oleh pengalaman, atau apa yang telah kita rasakan tentang cinta. Yang pada dasarnya hanya memberi dua bagian besar rasa, yaitu bahagia, atau sakit hati.
Dari awal kehidupan manusia, cinta sudah di tanamkan, bagimana manusia pertama Adam mencintai istrinya Hawa, walaupun dalam kisahnya tidak ada kata-kata cinta, tapi Kej, 2:23a. maka berkatalah manusia itu: “inilah dia tulang dari tulangku dan daging dari dagingku.” Adalah satu ungkapan rasa cinta Adam yang mendalam, kepada Hawa.
Cinta itu adalah perasaan ingin memiliki dan menjaga, yang mutlak. Karena cinta itu adalah perasaan jadi kita akan sangat sulit membahasakannya, seperti layaknya puisi, dibawah ini karya Hamdy Salad.
=DARI CINTA KE CINTA=
Cinta bagai angin
Tak seorangpun bisa menjaringnya
Cinta itu bagai air
Tak seorang pun bisa mengukirnya
Cinta itu bagai api
Tak seorangpun berani menggemgamnya
Cinta itu bagai tanah
Setiap orang akan berahir di lubangnya
Dari cinta ke cinta
Bumi langit menjelma rindu
Membentangkan sorga
Dari cinta ke cinta
Matahari dan bulan merasuk ke kalbu
Memancarkan cahayadari cinta ke cinta Adam dan Hawa
Menyatu meninggalkan raga
Dari cinta ke cinta
Ruh dan tubuh menyatu
Ke asal semesta..
Cinta juga sering memaksa orang mengorbankan imannya karena cinta, seperi layaknya Simson yang memberitahukan letak kelemahannya kepada Delila, karena cintanya. Ini artinya dibalik rasa cinta ternyata setan juga mengintip.
Selain memaksa orang berkorban demi cinta ada juga yang melakukan sesuatu, yang buruk yang bahkan kita akan berfikir bahwa itu bukan lagi cinta yang sebenarnya. Seperti perlakuan Amnon kepada Tamar, yang sebenarnya masih adiknya, seayah tapi tidak seibu,(II Sam 13). Disini kita lihat betapa identiknya cinta itu dengan nafsu, dan betapa cepatnya ia berubah menjadi kebencian.
Dalam I Raja-raja 11 juga dikisahkan bagaimana setan juga bekerja dalam rasa cinta Salomo, yang mencintai banyak gadis diluar, orang Israel.
Untuk lebih mengerti akan cinta sejati., kita bisa membaca Amsal, Mazmur, dan juga Kidung Agung.
Sekarang kenapa cinta itu bisa jadi sangat egois dan menuntut? Cinta sejati pada dasarnya, bukan sekedar perasaan, tetapi keputusan dan juga tindakan. Cinta itu berasal dari Tuhan, sbagai bagian dari perasaan. Perbedaan paling utama antara manusia dan binatang adalah perasaan, yang tidak di miliki binatang.
Dan ketika kita jauh dari Pemberi cinta sejati itu, maka makna cinta itupun berubah. Jadi untuk mengenal dan memiliki cinta sejati adalah, hanya dengan menjaga hubungan dengan pemberi kasih itu sendiri.
Dalam bahasa inggris, cinta, sayang, dan kasih adalah sama yaitu love. Cinta sayang dan kasih memang identik, tapi tetap punya perbedaan, cinta itu adalah perasaan ingin memiliki, dan menjaga yang mutlak dan menuntut balas. Dan jika tidak berbalas akan patah hati. Sayang itu adalah perasaan ingin menjaga, menuntun, tapi tidak mutlak memiliki, dan menuntut balas. Sedangkan kasih adalah perasaan paling mulia yaitu perasaan ingin memiliki, menjaga, menuntun yang mutlak tapi sama sekali tidak menuntut balas. Dan wujud dari ketiga perasaan itu adalah pengorbanan.
Cinta bisa membuat kita merasa sangat berharga, saat cinta itu bersambut. Tapi cinta juga bsa membuat kita merasa orang paling sedih di dunia ketika cinta itu, tidak bersambut atau ketika kisah cinta itu harus diahiri.
Beberapa pendapat orang tentang cinta :
1. Cinta adalah sebuah perasaan yang diberikan oleh Tuhan pada sepasang manusia untuk saling…. (saling mencintai, saling memiliki, saling memenuhi, saling pengertian dll). Cinta itu sendiri sama sekali tidak dapat dipaksakan, cinta hanya dapat brjalan apabila ke-2 belah phiak melakukan “saling” tersebut… cinta tidak dapat berjalan apabila mereka mementingkan diri sendiri. Karena dalam berhubungan, pasangan kita pasti menginginkan suatu perhatian lebih dan itu hanya bisa di dapat dari pengertian pasangannya.
2. Kadangkala cinta itu tidak harus diungkapkan dengan kata-kata. Adakalanya cinta itu tumbuh di hati seseorang, malahan orang tersebut menyimpannya dalam-dalam. Hal itu ia lakukan tak lain demi menjaga kesucuian sebuah cinta itu sendiri. Cinta itu memang murni, tak seorang pun yang bisa menentang jika cinta itu datang. Cinta tidak memandang usia, status dan keadaan. Cinta juga tidak menuntut harus memiliki. Seseorang yang merasakan cinta akan senang apabila ia bisa selalu bertemu dengan orang yang dicintai.
3. cinta itu gk bisa diungkapkan dgn bahasa dari apapun dan manapn…,cinta gk bisa dipikirkan dgn logika…,cinta itu aneh…,semakin kita mencintai seseorang semakin byk hal2 yg bisa kita benci dari dia…,cinta hanya bisa di rasakan…,tp,ketika kita merasakan cinta tersebut…,kita semakin bingung dgn cinta itu sendiri….,so intinya adalah ?????????
4. cinta itu adalah segalanya ,,,
tanpa cinta hidup tidak sempurna …
5. wuighzZZZZ…..arTi cnta tWU gaG uCH pnjang2,,,,,,
lo kT w Tie cNta tu????sbuah anugrah yang diberikan ma allah unt mndapat pcangan,dan cnta itu datang tuk mlukai hati kita jga louhgt…………………..
5. cinta itu adalah segalanya ,,,
tanpa cinta hidup tidak sempurna …
6. cinta itu ciuman indah namun tiada arti
7. Cinta… bagiku cinta itu tidak dapat di artikan. Akupun bingung tentang cinta, setiap aku tanya tentang arti cinta pasti semua orang menjawab berbeda-beda. Yang aku tahu CINTA adalah CINTA. Cinta seperti udara yang tidak akan pernah berahkir dan di butuhkan semua mahkluk hidup. !@_@! )
8. CINta…….perasaan yg tuLus
dy dtg tnp qt paksa.
daN gak prnh mudaH tuk meLupakannya…..
cinta…
mski dy mnyaktkan But smua org HiduP butuh cinta
9. yach cinta tu datang tiba2.tp sulit bgt tuk d lupa
hnya bsa bwt hati terluka cz tak sanggup lupakannya
hmmm cinta!!!!
10. cinta bagiku sebuah perasaan yang sulit dimengerti, tapi kadang cinta sangatlah menyakitkan .Namun hanya karena CINTA kita bisa saling menyayangi. Tapi kita kadang sering menganggap Cinta itu BUTA Kadang pula Cinta itu bisa hadir begitu saja dan menghilang saat kita cari
11. cinta……….
cnta sbuah prasaan yg dtng scra sndrina….
dy akn mmbwt lp sgalana….
kt bs mrsa sngt sepi bla orng yg kt synk gk da pdsmpng kt…….
namun jk dy ada d smpng kt,,kt akan srsa slit ntuk mngatakn ssuatu…
mengungkpkan prasaan kt,,,
tp cnta akn sngt mnyaktkan pabla sseorng yg kt cntai itu tk dpt mngrti kt,,,
n kt kan mngetahui bahwa kt mncntaina pbLa kt tlah khLnganna…
maka,,jaga cntmu sbLm ia prgi…
12. cinta otuh…anjink….yang menggonggong,,,,yang hanya bikin orang takut tuk melangkah,,,
13. cinta adalah C .I .N .T .A, beberapa hurup yang bisa membolak balikkan kehidupan. cinta bisa membuat hari ini kita senang , cinta juga bisa menjadi hari esok akan menjadi hari yang paling buruk. jalanilah cinta anda dengan biasa-biasa saja, supaya tidak membuat hidup kamu “A M B O R A D O L”
14. cinta…. kenapa cinta itu musti sakit,musti senang dan musti menyedihkan.
cinta terkadang membuat bingung !!!!
kadang juga membuat orang terbuai hanyut….
tapi.percaya dech..cinta sejati pasti ADA !!
15. Cinta adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. dunia tidak akan menjadi lebih indah jika tidak ada ruang untuk cinta. Mencintai dan dicintai meski kadangkala hubungan cinta dengan pasangan menyebabkan stress. yang terjadi justru sebaliknya, tanpa cinta, Stress kita akan berkali lipat. Cinta adalah dorongan yang lebih kuat daripada apapun.Cinta tidak kasat mata tidak dapat dilihat atau diukur tetapi cukup kuat untuk mengubah anda dalam sekejap.
Cinta tidak Buta justru sebaliknya orang yang mengalaminya yang BUTA karena dia salah menempatkan cinta ditempat yang benar.
16. Cinta….Dengan sayap lembutnya ia akan membawamu terbang keawan dan sebagaimana Cinta menenggelamkanmu hingga kedasar laut yang paling dalam……..
17. kEnpa ce CINTA tu nYk bYak Arti????
kNp kU musTi cKit hTi trOzzzz……….????
np CINTA eNggAk sLmaX bZ ngRTi aKu????
NicH cmua Nggak AdiL………….
18. cinta itu aneh,
dia datang disaat yang tak terduga dan dia pergi di saat kita merasakannya.
cinta itu menyenangkan sekaligus menyakitkan…
tanpa cinta kita hampa tapi adanya cinta membuat kita menderita..
19. cinta membuat seseorang tidak menjadi diri ny sendiri………
20. cinta tuh prasaan terindah dlm hdp.rasakanlah hangatx cinta sblm khngatan itu jauh dr hatimu.wlwpun mexkitkan tetapi cinta tetap digemari krn kerexahanx.ngerasain cinta tuh enak,pts cnta jg enak.jd nikmati hidupmu dengan membagikan cinta yang universal kpd stiap orang disekelilingmu.klo skit pts cinta bagiin ktmn2 km sapa tau dpt jln kluar.okay
cinta bisa membawa keindahan atau sakit hati. Berikut ada sedikit masukan buat teman2 dlm bbrapa keadaan :
1. jomblo
cinta itu sangat berharga jika kta berikan pada orang lain. Tpi sma sekali tidak berguna jka di simpan sendiri. Jdi pilihlah,, terbaik mnurutmu bukan menurut tetangga. Jangan terburu2, krna biasanya mkin kita kejar makin ia menjauh,, tpi jka kta brdiam, dia dtang dgn sndrinya.
2. blm pernah jath cinta.
Jangan takut, utk jtuh cinta yang pnting b’siap utk skit hati, atw utk lbih bahagia. Jgn smpan rsa skitmu jka bnr2 kau alami. Brbagilh, berpengertian, jgn trlalu menuntut.
3. skit hati
skit hati akan smkin dalam selama kau mw memprthankannya. Yang terpnting bkn bgaimn mengatsi rasa itu tpi bgaimna mengmbil hikmahnya. Bka htimu untk org lain, jagn cba menutup dri dn mnhan sndri rsa skit itu.
4. tkut bertrus terang.
Akan skit jka ku memutuskan hubunga, dn lbih skit jka dy yang memutuskan, tpi lbih sakit jka orng yang kita cintai tdk tahu sma skali, persaan kita. Jka tkut ungkpkn langsung, coba berikan dgn p’hatian. Krna cinta itu bkn sekedar prasaan tpi kmitmen, y wujudnya adlh pengorbanan.
5. mncintai biarpun sdah ditingglkan.
Akan sngt skit ketika orng y kita cntai ternyta bkan jdoh kita, dan sdah menyia2kan bnyak wktu pada orang yang tidak layak,..
Jka hari ni tdak layak, maka sepuluh taun mendtangpun tdak akan lyak. Jagn tmbh wktumu sia2 utk menantikan ssorang y tdak layak utkmu. Bka htimu utk org lain, jgn hrap dpt y sperti dia, krna tdk akn da,, tp y lbih baik bnyak
PARAKLETOS
PARAKLETOS
DASAR ALKITAB
Yohanes 14:16, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya”
Yohanes 14:26, “tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu”
Yohanes 15:26, “jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku”
Yohanes 16:7, “Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu”
Parakletos (Yunani: παράκλητος, latin: Paracletus) adalah suatu istilah yang berasal dari kata bahasa Yunani Koine παράκλητος berarti 'pembela' atau 'penolong' yang sering kali merujuk pada Roh Kudus. Tetapi dalam penterjemahan Alkitab kata ini dipahami dalam berbagai variasi. Kata “penolong” adalah parakletos, suatu kata yang terdiri dari kata para yang artinya berdampingan , untuk berjalan di samping . Dan kletos berasal dari kata kaleo yang artinya memanggil. Maka kata parakletos secara harfiah berarti, seorang yang dipanggil yang memiliki kemampuan untuk mendorong kehendak seseorang dan membuat orang itu bertindak, atau dipanggil untuk satu sisi, adalah digunakan untuk menggambarkan seseorang yang membantu orang lain dengan membela atau menghibur. Kata ini sebetulnya adalah istilah dalam dunia hukum, dalam Yunani sekuler kata ini digunakan terutama satu terpanggil untuk membantu orang lain di pengadilan. (Sejarah dari istilah dalam lingkup seluruh penggunaan Yunani dan dikenal di luar PB menghasilkan gambaran yang jelas seorang penasihat hukum atau penolong atau advokat di pengadilan). Dalam kebudayaan Yunani waktu itu, "Setiap teman yang akan mengambil tindakan untuk memberikan bantuan di saat membutuhkan hukum yang bisa disebut sebagai parakletos. Istilah ini lebih mengarah kepada orang yang mempunyai kemampuan untuk mendampingi seseorang menolong menyelesaikan masalahnya.
Dari keseluruhan Perjanjian Baru kata ini hanya dipakai lima kali, yaitu empat kali mengenai Roh Kudus (Yoh. 14:16; 26; 15:26; 16:7) dan sekali mengenai Tuhan Yesus (1 Yoh. 2:1). Pemakaian kata ini dalam Injil Yohanes, mengenai Roh Kudus, sangat menegaskan kerja sama antara Tuhan Yesus dengan Allah Bapa. Pertolongan penghibur ini tidaklah sebentar ada dan sebentar tidak, melainkan terus-menerus. Pada umumnya kata Parakletos dalam Alkitab menyatakan Roh Kudus dalam tanggung jawab-Nya menolong orang-orang percaya. Namun dalam beberapa terjemahan Alkitab, kata Parakletos dalam Yohanes 14:26 saja diterjemahakan sangat bervariasi: Jadi pekerjaan Roh Kudus sebagai Parakletos adalah:
1. Penolong Yang Lain – Roh yang diminta Yesus kepada Bapa dan yang diutus Bapa dalam nama Yesus dan yang diutus Yesus kepada murid-murid-Nya (Yoh 14:16)
2. Penghibur – yang mengajar (Yoh 14:26), yang turut bersaksi (Yoh 15:26), yang berkarya ketika Injil sedang diberitakan (Yoh 16:7-11);
3. Yang menyertai – Roh Kebenaran yang bertindak sebagai Bapa/Ibu (Yoh 14:17-18), Roh yang mengurapi Yesus dengan kuasa Allah (KPR 10:38), Roh yang menjamin penyelesaian Amanat Agung Kristus (Mat 28:19-20)
4. Pendoa Syafaat – Roh membantu kita dalam kelemahana kita dan berdoa untuk kita kepada Allah (Rm 8:26)
1 Yohanes 2:1, “anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil”
Istilah kata Parakletos juga menyatakan Yesus Kristus dalam tanggung jawab-Nya membela orang-orang percaya. Kristus adalah Parakletos (pembela, pengantara) orang percaya. Jadi, Parakletos biasanya diterjemahkan sebagai Advokat ketika mengacu pada Yesus Kristus , atau salah satu Penasihat, Penghibur ketika mengacu kepada Roh Kudus. dengan demikian, Kristus adalah parakletos (advokat=pembela) orang percaya di hadapan Bapa. Sementara Roh Kudus adalah parakletos (penolong yang mendiami) orang percaya ketika orang percaya itu dalam kelemahan, ketidaktahuan, dan ketidakmampuan.
BERKAT REPRESENTASI ROH KUDUS SEBAGAI PARAKLETOS
Aplikasi_ Istilah ini mengungkapkan seorang pembela bagi tertuduh yang melakukan pelanggaran. Pendosa berada di pihak yang salah terhadap Bapa dan memerlukan pertolongan. Artinya Allah mengampuni melalui cara yang sesuai dengan keadilan. Pengampunann tidaklah sama sekali menghilangkan hukum moral, melainkan meneguhkannya. Apabila hidup orang percaya aman dan lancar, tidak memerlukan seorang pengacara, tetapi pada waktu bermasalah memerlukan pengacara. Kristus telah mengalahkan dunia, tetapi yang percaya kepadaNya belum mengalahkan dunia seperti Kristus. Maka jelas orang percaya memerlukan Roh Kudus sebagai Penolong dan Penghibur, agar tetap kuat dan mampu menjalani hidup di dunia yang tidak lepas dari masalah bahkan penganiayaan, terlebih supaya tetap mampu menjalankan misi Allah yang telah dipercayakan kepada setiap orang yang percaya kepadaNya.
Referensi
Enns, Paul. The Moody Handbook Of Theology, (Malang: SAAT, 2008)
David Iman Santoso. Theologi Yohanes, (Malang: SAAT, 2005)
Hagelberg, Dave. Tafsiran Injil Yohanes (pasal 13 – 21). (Yogyakarta: ANDI, 2009)
D. Guthrie & Alec Motyer, dkk. Tafsiran Alkitab Masa Kini 3 (Matius – Wahyu), (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1994)
Artikel-artikel dari Internet
KEPEMIMPINAN NEHEMIA
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Krisis kepemimpinan pada masa sekarang adalah hal yang umum ditemui diberbagai bidang kepemimpinan. Masalah ini perlu diperhatikan dan perlu ditekankan dalam organisasi-organisasi dan kelompok-kelompok, khususnya dalam komunitas kristiani (Gereja). Gereja adalah kumpulan orang-orang yang percaya kepada Tuhan dan mempunyai pemimpin sebagai penuntun jalan bagi mereka. Sebagai satu kesatuan, Gereja banyak mengalami berbagai ketidakberesan yang timbul dari dalam gereja itu sendiri. Ini menunjukkan adanya krisis kepemimpinan. Krisis kepemimpinan itu mengakibatkan terjadinya penyimpangan-penyimpangan, yang bukan hanya merugikan bagi Gereja, bahkan bisa merusak keutuhan Gereja.
Sikap ketidakpuasan kepada pemimpin yang ditunjukkan oleh jemaat adalah satu bentuk penilaian kepada kinerja sang pemimpin. Timbulnya sikap pro dan kontra dalam Gereja, merupakan awal dari perpecahan, disebabkan karena perbedaan pendapat dalam mengambil kebijakan. Kondisi seperti inilah sudah menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh, sehingga menimbulkan keanekaragaman denominasi Gereja.
Keberadaan ini juga tidak berbeda dengan bangsa Israel di masa Nehemia yang mengalami krisis rohani, politik, sosial, dan ekonomi. Ketika bangsa Israel mengalami hal ini, tidak ada pemimpin yang memimpin mereka. Inilah krisis kepemimpinan sebenarnya yang dialami bangsa Isarel. Dalam waktu yang tepat, tampillah Nehemia sebagai pemimpin bagi bangsa Israel.
Dengan mengetahui prinsip kepemimpinan Nehemia, maka dapat menjadi pola kepemimpinan masa Gereja Tuhan era sekarang.
BAB II
PRINSIP KEPEMIMPINAN NEHEMIA
Khusus dalam lingkup rohani seorang pemimpin adalah seseorang yang memiliki kuasa rohani yang datang dari Allah. Dapat mempengaruhi orang lain untuk bekerja sama mencapai satu visi bagi kemuliaan Allah.
Profil Kerohanian Nehemia
Nehemia sebagai pemimpin memiliki rohani yang tinggi ditunjukkan dalam keimanannya kepada Allah, yakni:
Memiliki Visi Allah
Keimanan Nehemia kepada Allah menyebabkan visi Allah ada dalam dirinya. Ini adalah titik awal untuk berpikir dan mengexpresikannya dalam mencapai tujuan yang berhasil. Nehemia memiliki visi yang mengubah hidupnya dan bangsa Israel, menjadi seorang pemimpin yang mengusahkan kesejahteraan bagi Israel. Nehemia telah mendengar tentang bangsanya dan Yerusalem, yang menimbulkan beban di dalam dirinya. Selanjutnya, Nehemia menunjukkan reaksinya dengan mengutarakannya kepada Allah dalam iman yang penuh dan teruji (Nehemia 2:12).
Mengandalkan Allah
Dalam setiap doa-doa yang terdengar dari Nehemia, menunjukkan bahwa ia adalah pribadi yang memiliki ketergantungan penuh kepada Allah. Satu gaya hidup yang diperkenalkan oleh Nehemia untuk mempertahankan hubungannya dengan Tuhannya. Bagi Nehemia doa bukan saja merupakan sesuatu yang dilakukan pada waktu tertentu saja, melainkan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan dan dari pekerjaan sehari-hari. Reaksi pertama yang dilakukan oleh Nehemia pada waktu mendengar kabar tentang bangsanya adalah berpaling kepada Allah di dalam doa, (Nehemia 1:4).
Doa bagi Nehemia merupakan hal utama, bukan sekedar berdoa secara teori. Dengan fakta yang jelas dan ia dapat melaksanakannya yang diikuti keyakinan hati untuk mau melakukan apa yang telah didoakan biar membuahkan hasil. Dalam doa juga Nehemia meminta izin kepada raja Arthasasta, berdoa agar dengan kerelaan hati mengabulkan permohonan untuk pergi ke Yerusalem. Ketergantungan inilah yang diandalkan oleh Nehemia dalam melaksanakan visinya, sehingga ia tidak pernah mengeluh ataupun mundur.
Karakteristik Nehemia
Sifat yang khas yang ada dalam diri Nehemia adalah hal paling menonjol yang orang lain belum tentu memilikinya. Sifat-sifat yang dimaksud adalah hal-hal yang bisa mendukungnya dalam mengemban tugas sebagai pemimpin.
• Memiliki Keberanian Dalam Tugas Dan Tantangan
Keberanian adalah sifat pikiran yang memungkinkan orang untuk menghadapi bahaya atau kesukaran dengan keteguhan, tanpa rasa takut atau kecil hati. Sifat keberanian inilah yang dimiliki oleh Nehemia yang sudah menjadi karakternya. Ketika Nehemia meminta izin kepada raja, ia sadar akan resiko yang berlaku, karena orang yang menghadap raja tanpa dipanggil lebih dahulu, hukumannya adalah hukum mati. Sebagai seorang pemberani, Nehemia mengambil resiko tersebut dan berhasil menghadapi tantangan tersebut, (Nehemia 2:3,5). Tidak berhenti disitu saja, tetapi Nehemia juga menghadapi orang-orang yang menghalang-halangi pembangunan rumah Allah. Serangan-serangan ini sedikitpun tidak mempengaruhi Nehemia dalam melanjutkan tugasnya sebagai pemimpin.
• Empati
Empati adalah turut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Rasa empati dalam diri Nehemia muncul ketika ia mendengar kabar tentang bangsanya, (1:3). Ia tunjukkan dengan berpuasa, berdoa, dan air mata (1:4-6). Ia juga memihak kepada bangsanya dalam keadaan berdosa, dengan mengakui dihadapan Tuhan (1:6).
• Pemimpin Yang Tegas
Keyakinan yang kuat dalam mengambil keputusan dan dalam bertindak adalah hal paling penting yang harus dimiliki seorang pemimpin. Sebagai akibatnya, ia tidak ragu-ragu dalam melangkah mencapai tujuan dan membawa orang lain merasa dikuatkan. Nehemia mengemukakan pernyataan yang tegas kepada orang-orang yang mengolok-olok bangsa Israel (2:20). Keputusan untuk terus membangun tembok Yerusalem, walaupun ada tantangan (4:6). Berani bertindak tegas kepada orang-orang yang berbuat salah (5:7).
BAB III
IMPLEMENTASI BAGI GEREJA
Melihat kondisi Gereja saat ini khususnya di Indonesia, Gereja hidup ditengah-tengah agama lain yang bersifat pluralisme dengan dilandasi toleransi beragama. Hal ini membawa dampak positif bagi Gereja, karena dapat menjalankan ibadahnya seperti agama-agama lain. Dengan demikian persamaan masa Nehemia dengan Gereja saat ini adalah hidup ditengah-tengah agama lain masih tetap menjalankan agamanya. Israel dengan monotheisme dan Gereja dengan Kristennya.
Dari kondisi yang hampir sama ini, maka prinsip-prinsip dasar kepemimpinan Nehemia yang telah dibahas diatas dapat di implementasikan dengan baik. Juga akan menjadi strategi yang jitu bagi pemimpin Gereja masa sekarang yang sedang ada dalam pelayanan.
Kerohanian Pemimpin
Kerohanian yang telah teruji merupakan syarat mutlak seorang pemimpin yang sudah harus ia miliki. Ukuran yang paling penting bukan terletak pada apa yang dikerjakan, tetapi pada hubungannya dengan Allah. Kerohanian yang mantap memungkinkan untuk memiliki kepekaan rohani di hadapan Allah, sehingga prinsip dasar kepemimpinan yang digunakan juga bertumpu pada Allah. Melayani adalah satu panggilan Allah dan harus senantiasa mengkonsultasikan kepada Allah sebagai wujud nyata yang terlihat setiap waktu dari seorang pemimpin.
Seperti Nehemia yang telah mengetahui visi dan misinya, begitu juga seorang pemimpin Gereja harus mengetahui visi dan misinya yang jelas. Seorang pemimpin yang berwibawa diperlukan kemampuan melihat ke muka untuk 10 – 25 tahun yang akan datang. Antisipasi jauh ke depan sambil membaca kesempatan dan tantangan dari perubahan zaman ini sangat terkait dengan kehidupan spiritual yang dimilikinya. Sekaligus berdiri dalam visi dan misi Gereja di dunia ini, yakni memberitakan Injil, dan menjadikan semua bangsa murid Tuhan dengan penyertaan Allah. Ketergantungan kepada Allah sangat penting bagi seorang pemimpin untuk mengemban tugas ini. Sebagaimana Nehemia dengan doanya telah menunjukkan ketergantungannya kepada Allah. Pemimpin Gereja dan doanya tidak dapat dipisahkan. Pemimpin harus turut serta dalam gerak maju pembangunan, tanpa mengorbankan imannya, kesaksiannya, serta pelayanan sebagai hamba Tuhan. Semuanya ini adalah satu sikap yang memperlihatkan solidaritas kepada bangsa dan negara yang selalu berkaitan dengan kehidupan doa seorang pemimpin Gereja, yaitu pelayanan doa yang mencakup seluruh aspek. Bagian inilah yang disebutkan pengandalan kepada Tuhan secara total yang dimulai dari pembangunan tubuh Gereja yang rohani.
Karakteristik Pemimpin
Seorang pemimpin Gereja masa sekarang harus berani menghadapi tugas dan tantangan. Tugas utama membawa Gereja bertumbuh secara kualitas dan kuantitas. Dan untuk tugas ini merupakan perjalanan panjang dan penuh tantangan, tetapi dituntut keberanian yang radikal dalam diri pemimpin. Kesanggupan dalam menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh dan tekun akan berdampak langsung pada kewibawaannya terhadap orang-orang yang dipimpinnya. Dalam menjalankannya harus dengan motivasi yang murni. Kemurnian motivasi dalam menjalankan tugas adalah hal yang sangat sakral dalam diri pemimpin. Tujuannya adalah demi kepentingan pekerjaan Tuhan yang selalu bersifat terbuka.
Sedikit sekali pemimpin menyadari empati dalam seni memimpin adalah hal yang sama dengan kasih. Pentingnya kasih dalam kepemimpinan sudah menjadi prasyarat seseorang untuk jadi pemimpin . Betapa kuatnya pernyataan mengenai pentingnya kasih, baik dalam pengajaran Yesus maupun penekanan-penekanan yang diajarkan Oleh Rasul Paulus dalam tulisan-tulisannya. Kasih itu mencakup semua aspek kehidupan yang berorientasi kepada sikap baik kepada sesama yang ditunjukkan dalam berbagai bentuk. Tentunya hal ini harus dimiliki oleh pemimpin Kristen yang mengetahui kebutuhan yang dipimpinnya. Kasih itu meliputi antara lain: kesabaran, murah hati, tidak cemburu, tidak sombong, tidak pernah congkak, tidak egois, bersikap lembut, tidak menuntut kemauannya sendiri, tidak mudah tersinggung, tidak menaruh dendam, kasih hampir tidak memperhatikan kesalahan orang, tidak pernah senang memandang kelaliman, bergembira bila kebenaran menang, setia, mempercayai orang lain, membela orang lain, dan kasih tiada pernah berkesudahan. Semua kategori ini adalah hal yang sama satu dengan yang lain, yang tidak bisa diabaikan oleh seorang pemimpin.
Bersikap tegas, pemimpin yang besikap tegas akan terbukti rajin/giat; efektif dan efisien serta berorientasi kepada sasaran kerja. Pemimpin Kristen adalah pemimpin yang pragmatis serta produktif, yang menghasilkan buah (hasil) dalam kepemimpinannya. Pemimpin Kristen sekalipun adalah pemimpin rohani, ia harus berorientasi kepada hasil atau sukses, dengan menerapkan gaya wirausaha. Alasan utama bagi orientasi ini ialah bahwa Allah pun menghendaki agar pemimpin Kristen itu berhasil dalam kepemimpinannya. Kebenaran ini diteguhkan oleh analogi perumpamaan pada Matius 25:14-30, dimana ketidaktaatan yang menandakan ketidakberhasilan dikecam oleh Tuhan Yesus dengan tegas.
BAB IV
PENUTUP
Prinsip-prinsip dasar kepemimpinan Nehemia rupanya mampu menjawab kebutuhan dalam masa krisis kepemimpinan yang sedang terjadi sekarang dalam Gereja. Berkaitan dengan situasi dan kondisi yang hampir sama, maka pemimpin Kristen dapat langsung mengaplikasikannya dalam strategi dalam pengembangan dan pertumbuhan Gereja.
Dalam lingkup pelayanan rohani sangat erat berkaitan dengan Allah. Maka pemimpin harus memiliki keimanan di dalam Allah sebagai sentral dalam menjalankan semua tanggungjawab yang telah dibebankan kepadanya.
KEPUSTAKAAN
_______, Ensikopedi Umum, (Yogyakarta: KANISIUS, 1973)
Andar Ismail, Bambang Mulyatno, dkk, Kepemimpinan Dan Pembinaan Warga Gereja, (Jakarta: PT Sinar Agape Press, 1998)
Baxter, J.Sidlow., Menggali Isi Alkitab, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983)
Dale, Robert D., Pelayanan Sebagai Pemimpin, (Malang: Gandum Mas, 1992)
P.Oktavianus, Kepemimpinan Kristen Dalam Negara Pancasila, (Malang: YPPII, 1989)
Rush, Myron., Pemimpin Baru, (Jakarta: IMMANUEL, 1993), h.118
Swindol, Charles R., Kepemimpinan Yang Berhasil, (Surabaya: YAKIN, tth)
Yakob Tomatala, Kepemimpinan Yang Dinamis, (Malang: Gandum Mas, 1997)
Artikel internet
http://www.artikata.co.id//empati.html,
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Krisis kepemimpinan pada masa sekarang adalah hal yang umum ditemui diberbagai bidang kepemimpinan. Masalah ini perlu diperhatikan dan perlu ditekankan dalam organisasi-organisasi dan kelompok-kelompok, khususnya dalam komunitas kristiani (Gereja). Gereja adalah kumpulan orang-orang yang percaya kepada Tuhan dan mempunyai pemimpin sebagai penuntun jalan bagi mereka. Sebagai satu kesatuan, Gereja banyak mengalami berbagai ketidakberesan yang timbul dari dalam gereja itu sendiri. Ini menunjukkan adanya krisis kepemimpinan. Krisis kepemimpinan itu mengakibatkan terjadinya penyimpangan-penyimpangan, yang bukan hanya merugikan bagi Gereja, bahkan bisa merusak keutuhan Gereja.
Sikap ketidakpuasan kepada pemimpin yang ditunjukkan oleh jemaat adalah satu bentuk penilaian kepada kinerja sang pemimpin. Timbulnya sikap pro dan kontra dalam Gereja, merupakan awal dari perpecahan, disebabkan karena perbedaan pendapat dalam mengambil kebijakan. Kondisi seperti inilah sudah menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh, sehingga menimbulkan keanekaragaman denominasi Gereja.
Keberadaan ini juga tidak berbeda dengan bangsa Israel di masa Nehemia yang mengalami krisis rohani, politik, sosial, dan ekonomi. Ketika bangsa Israel mengalami hal ini, tidak ada pemimpin yang memimpin mereka. Inilah krisis kepemimpinan sebenarnya yang dialami bangsa Isarel. Dalam waktu yang tepat, tampillah Nehemia sebagai pemimpin bagi bangsa Israel.
Dengan mengetahui prinsip kepemimpinan Nehemia, maka dapat menjadi pola kepemimpinan masa Gereja Tuhan era sekarang.
BAB II
PRINSIP KEPEMIMPINAN NEHEMIA
Khusus dalam lingkup rohani seorang pemimpin adalah seseorang yang memiliki kuasa rohani yang datang dari Allah. Dapat mempengaruhi orang lain untuk bekerja sama mencapai satu visi bagi kemuliaan Allah.
Profil Kerohanian Nehemia
Nehemia sebagai pemimpin memiliki rohani yang tinggi ditunjukkan dalam keimanannya kepada Allah, yakni:
Memiliki Visi Allah
Keimanan Nehemia kepada Allah menyebabkan visi Allah ada dalam dirinya. Ini adalah titik awal untuk berpikir dan mengexpresikannya dalam mencapai tujuan yang berhasil. Nehemia memiliki visi yang mengubah hidupnya dan bangsa Israel, menjadi seorang pemimpin yang mengusahkan kesejahteraan bagi Israel. Nehemia telah mendengar tentang bangsanya dan Yerusalem, yang menimbulkan beban di dalam dirinya. Selanjutnya, Nehemia menunjukkan reaksinya dengan mengutarakannya kepada Allah dalam iman yang penuh dan teruji (Nehemia 2:12).
Mengandalkan Allah
Dalam setiap doa-doa yang terdengar dari Nehemia, menunjukkan bahwa ia adalah pribadi yang memiliki ketergantungan penuh kepada Allah. Satu gaya hidup yang diperkenalkan oleh Nehemia untuk mempertahankan hubungannya dengan Tuhannya. Bagi Nehemia doa bukan saja merupakan sesuatu yang dilakukan pada waktu tertentu saja, melainkan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan dan dari pekerjaan sehari-hari. Reaksi pertama yang dilakukan oleh Nehemia pada waktu mendengar kabar tentang bangsanya adalah berpaling kepada Allah di dalam doa, (Nehemia 1:4).
Doa bagi Nehemia merupakan hal utama, bukan sekedar berdoa secara teori. Dengan fakta yang jelas dan ia dapat melaksanakannya yang diikuti keyakinan hati untuk mau melakukan apa yang telah didoakan biar membuahkan hasil. Dalam doa juga Nehemia meminta izin kepada raja Arthasasta, berdoa agar dengan kerelaan hati mengabulkan permohonan untuk pergi ke Yerusalem. Ketergantungan inilah yang diandalkan oleh Nehemia dalam melaksanakan visinya, sehingga ia tidak pernah mengeluh ataupun mundur.
Karakteristik Nehemia
Sifat yang khas yang ada dalam diri Nehemia adalah hal paling menonjol yang orang lain belum tentu memilikinya. Sifat-sifat yang dimaksud adalah hal-hal yang bisa mendukungnya dalam mengemban tugas sebagai pemimpin.
• Memiliki Keberanian Dalam Tugas Dan Tantangan
Keberanian adalah sifat pikiran yang memungkinkan orang untuk menghadapi bahaya atau kesukaran dengan keteguhan, tanpa rasa takut atau kecil hati. Sifat keberanian inilah yang dimiliki oleh Nehemia yang sudah menjadi karakternya. Ketika Nehemia meminta izin kepada raja, ia sadar akan resiko yang berlaku, karena orang yang menghadap raja tanpa dipanggil lebih dahulu, hukumannya adalah hukum mati. Sebagai seorang pemberani, Nehemia mengambil resiko tersebut dan berhasil menghadapi tantangan tersebut, (Nehemia 2:3,5). Tidak berhenti disitu saja, tetapi Nehemia juga menghadapi orang-orang yang menghalang-halangi pembangunan rumah Allah. Serangan-serangan ini sedikitpun tidak mempengaruhi Nehemia dalam melanjutkan tugasnya sebagai pemimpin.
• Empati
Empati adalah turut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Rasa empati dalam diri Nehemia muncul ketika ia mendengar kabar tentang bangsanya, (1:3). Ia tunjukkan dengan berpuasa, berdoa, dan air mata (1:4-6). Ia juga memihak kepada bangsanya dalam keadaan berdosa, dengan mengakui dihadapan Tuhan (1:6).
• Pemimpin Yang Tegas
Keyakinan yang kuat dalam mengambil keputusan dan dalam bertindak adalah hal paling penting yang harus dimiliki seorang pemimpin. Sebagai akibatnya, ia tidak ragu-ragu dalam melangkah mencapai tujuan dan membawa orang lain merasa dikuatkan. Nehemia mengemukakan pernyataan yang tegas kepada orang-orang yang mengolok-olok bangsa Israel (2:20). Keputusan untuk terus membangun tembok Yerusalem, walaupun ada tantangan (4:6). Berani bertindak tegas kepada orang-orang yang berbuat salah (5:7).
BAB III
IMPLEMENTASI BAGI GEREJA
Melihat kondisi Gereja saat ini khususnya di Indonesia, Gereja hidup ditengah-tengah agama lain yang bersifat pluralisme dengan dilandasi toleransi beragama. Hal ini membawa dampak positif bagi Gereja, karena dapat menjalankan ibadahnya seperti agama-agama lain. Dengan demikian persamaan masa Nehemia dengan Gereja saat ini adalah hidup ditengah-tengah agama lain masih tetap menjalankan agamanya. Israel dengan monotheisme dan Gereja dengan Kristennya.
Dari kondisi yang hampir sama ini, maka prinsip-prinsip dasar kepemimpinan Nehemia yang telah dibahas diatas dapat di implementasikan dengan baik. Juga akan menjadi strategi yang jitu bagi pemimpin Gereja masa sekarang yang sedang ada dalam pelayanan.
Kerohanian Pemimpin
Kerohanian yang telah teruji merupakan syarat mutlak seorang pemimpin yang sudah harus ia miliki. Ukuran yang paling penting bukan terletak pada apa yang dikerjakan, tetapi pada hubungannya dengan Allah. Kerohanian yang mantap memungkinkan untuk memiliki kepekaan rohani di hadapan Allah, sehingga prinsip dasar kepemimpinan yang digunakan juga bertumpu pada Allah. Melayani adalah satu panggilan Allah dan harus senantiasa mengkonsultasikan kepada Allah sebagai wujud nyata yang terlihat setiap waktu dari seorang pemimpin.
Seperti Nehemia yang telah mengetahui visi dan misinya, begitu juga seorang pemimpin Gereja harus mengetahui visi dan misinya yang jelas. Seorang pemimpin yang berwibawa diperlukan kemampuan melihat ke muka untuk 10 – 25 tahun yang akan datang. Antisipasi jauh ke depan sambil membaca kesempatan dan tantangan dari perubahan zaman ini sangat terkait dengan kehidupan spiritual yang dimilikinya. Sekaligus berdiri dalam visi dan misi Gereja di dunia ini, yakni memberitakan Injil, dan menjadikan semua bangsa murid Tuhan dengan penyertaan Allah. Ketergantungan kepada Allah sangat penting bagi seorang pemimpin untuk mengemban tugas ini. Sebagaimana Nehemia dengan doanya telah menunjukkan ketergantungannya kepada Allah. Pemimpin Gereja dan doanya tidak dapat dipisahkan. Pemimpin harus turut serta dalam gerak maju pembangunan, tanpa mengorbankan imannya, kesaksiannya, serta pelayanan sebagai hamba Tuhan. Semuanya ini adalah satu sikap yang memperlihatkan solidaritas kepada bangsa dan negara yang selalu berkaitan dengan kehidupan doa seorang pemimpin Gereja, yaitu pelayanan doa yang mencakup seluruh aspek. Bagian inilah yang disebutkan pengandalan kepada Tuhan secara total yang dimulai dari pembangunan tubuh Gereja yang rohani.
Karakteristik Pemimpin
Seorang pemimpin Gereja masa sekarang harus berani menghadapi tugas dan tantangan. Tugas utama membawa Gereja bertumbuh secara kualitas dan kuantitas. Dan untuk tugas ini merupakan perjalanan panjang dan penuh tantangan, tetapi dituntut keberanian yang radikal dalam diri pemimpin. Kesanggupan dalam menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh dan tekun akan berdampak langsung pada kewibawaannya terhadap orang-orang yang dipimpinnya. Dalam menjalankannya harus dengan motivasi yang murni. Kemurnian motivasi dalam menjalankan tugas adalah hal yang sangat sakral dalam diri pemimpin. Tujuannya adalah demi kepentingan pekerjaan Tuhan yang selalu bersifat terbuka.
Sedikit sekali pemimpin menyadari empati dalam seni memimpin adalah hal yang sama dengan kasih. Pentingnya kasih dalam kepemimpinan sudah menjadi prasyarat seseorang untuk jadi pemimpin . Betapa kuatnya pernyataan mengenai pentingnya kasih, baik dalam pengajaran Yesus maupun penekanan-penekanan yang diajarkan Oleh Rasul Paulus dalam tulisan-tulisannya. Kasih itu mencakup semua aspek kehidupan yang berorientasi kepada sikap baik kepada sesama yang ditunjukkan dalam berbagai bentuk. Tentunya hal ini harus dimiliki oleh pemimpin Kristen yang mengetahui kebutuhan yang dipimpinnya. Kasih itu meliputi antara lain: kesabaran, murah hati, tidak cemburu, tidak sombong, tidak pernah congkak, tidak egois, bersikap lembut, tidak menuntut kemauannya sendiri, tidak mudah tersinggung, tidak menaruh dendam, kasih hampir tidak memperhatikan kesalahan orang, tidak pernah senang memandang kelaliman, bergembira bila kebenaran menang, setia, mempercayai orang lain, membela orang lain, dan kasih tiada pernah berkesudahan. Semua kategori ini adalah hal yang sama satu dengan yang lain, yang tidak bisa diabaikan oleh seorang pemimpin.
Bersikap tegas, pemimpin yang besikap tegas akan terbukti rajin/giat; efektif dan efisien serta berorientasi kepada sasaran kerja. Pemimpin Kristen adalah pemimpin yang pragmatis serta produktif, yang menghasilkan buah (hasil) dalam kepemimpinannya. Pemimpin Kristen sekalipun adalah pemimpin rohani, ia harus berorientasi kepada hasil atau sukses, dengan menerapkan gaya wirausaha. Alasan utama bagi orientasi ini ialah bahwa Allah pun menghendaki agar pemimpin Kristen itu berhasil dalam kepemimpinannya. Kebenaran ini diteguhkan oleh analogi perumpamaan pada Matius 25:14-30, dimana ketidaktaatan yang menandakan ketidakberhasilan dikecam oleh Tuhan Yesus dengan tegas.
BAB IV
PENUTUP
Prinsip-prinsip dasar kepemimpinan Nehemia rupanya mampu menjawab kebutuhan dalam masa krisis kepemimpinan yang sedang terjadi sekarang dalam Gereja. Berkaitan dengan situasi dan kondisi yang hampir sama, maka pemimpin Kristen dapat langsung mengaplikasikannya dalam strategi dalam pengembangan dan pertumbuhan Gereja.
Dalam lingkup pelayanan rohani sangat erat berkaitan dengan Allah. Maka pemimpin harus memiliki keimanan di dalam Allah sebagai sentral dalam menjalankan semua tanggungjawab yang telah dibebankan kepadanya.
KEPUSTAKAAN
_______, Ensikopedi Umum, (Yogyakarta: KANISIUS, 1973)
Andar Ismail, Bambang Mulyatno, dkk, Kepemimpinan Dan Pembinaan Warga Gereja, (Jakarta: PT Sinar Agape Press, 1998)
Baxter, J.Sidlow., Menggali Isi Alkitab, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983)
Dale, Robert D., Pelayanan Sebagai Pemimpin, (Malang: Gandum Mas, 1992)
P.Oktavianus, Kepemimpinan Kristen Dalam Negara Pancasila, (Malang: YPPII, 1989)
Rush, Myron., Pemimpin Baru, (Jakarta: IMMANUEL, 1993), h.118
Swindol, Charles R., Kepemimpinan Yang Berhasil, (Surabaya: YAKIN, tth)
Yakob Tomatala, Kepemimpinan Yang Dinamis, (Malang: Gandum Mas, 1997)
Artikel internet
http://www.artikata.co.id//empati.html,
Kamis, 02 Februari 2012
jemaat filadhelfia
KETAATAN VS KEKUATAN
Jemaat Filadelfia (Wahyu 3:7-13)
Kota Filadelfia adalah kota diprofinsi Roma wilayah Asia. Tepatnya di sebelah barat dari daerah yang dinamakan dengan TURKI sekarang. Pada tahun 17 M, kota Filadelfia dilanda gempa yang besar dan merusak kota itu dengan sangat parah. Sehingga banyak dari penduduknya yang mengungsi kepinggiran kota.
Kota ini terkenal karena banyaknya candi dan pesta-pesta keagamaan. Sehingga kota ini juga diesbut sebagai ‘Athena kecil’.
Filadelfia berasal dari kata Yunani Philadelpheia, kata ini berasal dari kata Philadelphia yang berarti ‘kasih terhadap saudara (seiman)’/Philadelphos yang berarti ‘yang mengasihi saudara (seiman).’ Nama kota ini diambil dari nama adik dari pendiri kota Filadelfia (raja Pergamus Emenus II) yaitu (Raja Attalus II) Filadelfus yang begitu taat kepada raja Emenus II. Hal ini dapat disamakan dengan ketaatan dari jemaat Filadelfia kepada Kristus. Jemaat Filadelfia begitu mengasihi Tuhan melalui kehidupan mereka, walaupun mereka tidak begitu kuat (secara fisik, ekonomi, dan berada dalam tekanan-tekanan org Yahudi) namun mereka berusaha untuk tetap taat kepada Tuhan. Sehingga dalam suratnya jemaat Filadelfia tidak dicela oleh Tuhan, tetapi dipuji dan dikuatkan oleh Tuhan.
Karena banyaknya penyembahan berhala di dalam kota Filadelfia, dan ritual-ritual keagamaan, maka pada pembukaan dari surat kepada jemaat Filadelfia Yesus menunjukkan jati diri sebagai Allah.
Yesus menyatakan diri sebagai ‘Yang Kudus’. Hal ini menunjukkan jati diri-Nya sebagai Allah Yang Kudus. Yang terpisah dari hal-hal yang berdosa dan merupakan Allah satu-satunya yang tidak dapat dibandingkan oleh apapun di dunia ini.
Yesus juga menyatakan dirinya sebagai ‘Yang Benar’. Ia adalah Allah yang asli, bukan tiruan, bukan patung atau buatan manusia. Ada ratusan allah palsu pada masa itu, tetapi hanya Yesus Kristus yang benar-benar Allah sejati. Allah yang dapat dipercaya, yang bila berjanji maka janji itu pasti dapat dipegang dan dipercayai oleh jemaat Filadelfia.
Yesus juga menyatakan dirinya sebagai ‘yang memgang kunci Daud’. Hal ini menunjuk kepada keberadaan Yesus sebagai Daud yang memiliki otoritas sebagai Raja atas dunia dan akhirat ini. Pemegang Kunci Daud menunjukkan kepada Yesus yang berhak membuka pintu kerajaan Allah bagi siapapun yang Dia inginkan. Ia memiliki ototritas sebab Ia adalah pemegang kunci kerajaan surga dan kerajaan maut. Walaupun kekuatan jemaat itu tidak seberapa dan keadaan jemaat itu ditindas di dalam pelayanan mereka, namun Tuhan Yesus tetap menyatakan otoritasnya sebagai pemegang kunci Daud. Yesaya 22:22, “Aku akan menaruh kunci rumah Daud ke atas bahunya: apabila ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.”
Ayat 8. Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah MEMBUKA PINTU BAGIMU, yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku.
Yesus menyatakan kepada jemaat filadelfia bahwa ‘Dia telah membuka pintu bagi mereka’. Dalam perjanjian baru ‘Pintu yang terbuka’ menunjukkan kepada kesempatan untuk pelayanan. Hal ini dapat kita lihat di dalam,
Kis. 14:27, “Setibanya di situ mereka memanggil jemaat berkumpul, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka, dan bahwa Ia telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman.”
1 Kor. 16:9,” sebab di sini banyak kesempatan bagiku untuk mengerjakan pekerjaan yang besar dan penting, sekalipun ada banyak penentang.”
2 Kor.2:12, “Ketika aku tiba di Troas untuk memberitakan Injil Kristus, aku dapati, bahwa Tuhan telah membuka jalan untuk pekerjaan di sana.”
Kol.4:3, “Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan.”
Yesus adalah kepala gereja, dan Dialah yang memberikan setiap kita kesempatan dan membukakan setiap pintu-pintu hati orang-orang yang belum percaya untuk menerima Injil Tuhan. Ia memberikan kesempatan yang besar bagi jemaat di Filadelfia untuk melayani dan memberitakan Injil. Ia pun memberikan kesempatan kepada kita disini untuk melayani dan memberitakan Injil kepada orang yang belum percaya.
Dengan Otoritas-Nya Tuhan menyatakan bahwa Dia adalah penentu segala keberhasilan kita di dalam pelayanan. Sebab hanya Dia yang dapat membuka dan menutup kesempatan kita untuk melayani Dia. Namun dengan kesempatan yang begitu besar yang Tuhan berikan kepada jemaat di Filadelfia, dapatkah mereka menjalani kesempatan pelayanan ini dengan baik. Sebab Tuhan berkata, Dia sudah membukakan pintu bagi mereka untuk melayani.
Bukan berarti karena Tuhan telah membuka pintu bagi mereka, maka perjalanan pelayanan mereka akan menjadi mulus tanpa rintangan. Memang Tuhan telah menyatakan bahwa Dia telah membuka kesempatan kepada mereka untuk melayani, tetapi tidak menyatakan bahwa mereka akan melayani tanpa rintangan. Bagi jemaat Filadelfia ini tidaklah mudah, sebab dalam kesempatan yang telah Tuhan berikan kepada mereka, jemaat Filadelfia masih harus menghadapi dua rintangan di dalam pelayanan mereka.
Demikian juga dengan kita, Tuhan membuka kesempatan bagi kita untuk melayani Dia. Tetapi bukan berarti kita akan dapat melayani dengan baik-baik saja atau tanpa rintangan. Akan banyak rintangan yang dihadapi dalam pelayanan, tetapi Tuhan berjanji akan selalu melindungi dan menyertai kita semua dalam pelayanan kita. (ay.10).
Apa saja rintangan yang mereka hadapi :
1. Kekuatan yang tidak seberapa
Wahyu 3:8, “Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku.”
Tuhan adalah Tuhan yang mengetahui segala pekerjaan dan keadaan kita di dalam melayani Tuhan.
Wahyu 2:2, “Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu…” (J. Efesus)
Wahyu 2:9, “Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu…” (J. Smirna)
Wahyu 2:13, “Aku tahu di mana engkau diam, yaitu di sana, di tempat tahta Iblis…” (J. Pergamus)
Wahyu 2:19, “Aku tahu segala pekerjaanmu: baik kasihmu maupun imanmu, baik pelayananmu maupun ketekunanmu…” (J. Tiatira)
Wahyu 3:1, “Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati…” (J. Sardis)
Wahyu 3:8, “Aku tahu segala pekerjaanmu: Lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat di tutup oleh seorang pun…” (J. Filadelfia)
Wahyu 3:15, “Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas.” (J. Laodikia)
Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak pernah menutup mata atas segala sesuatu yang kita kerjakan di dunia ini. Yesus mengetahui bahwa Jemaat Filadelfia tidak terlalu kuat di dalam menjalani kesempatan pelayanan yang Tuhan berikan kepada mereka. Tetapi mereka berusaha untuk tetap mengerjakan pelayanan itu, meskipun kekuatan mereka tidak seberapa.
Sebenarnya bagaimana keadaan jemaat disana, sehingga mereka dikatakan tidak terlalu kuat?
Jemaat di Filadelfia bukanlah jemaat yang besar dan kuat. Bisa dikatakan bahwa mereka tidak memiliki kekuatan ekonomi gereja untuk mendanai kegiatan PI, tetapi mereka tetap berusaha bagaimana caranya dengan apa yang ada pada mereka, mereka gunakan untuk melakukan pelayanan pemberitaan Injil Tuhan. Mereka dibatasi oleh kekuasaan romawi pada waktu itu untuk memberitakan Injil, mereka berada di bawah tekanan dari kekuasaan Negara Romawi. Namun dengan kekuasaan yang tidak banyak mereka berusaha untuk tetap memberitakan Injil yang disertai oleh kuasa Tuhan. Tidak terlalu kuat, namun mereka taat kepada perintah Tuhan untuk melayani.
Mengapa Jemaat Filadelfia ini tetap taat meskipun mereka tidak terlalu kuat?
Karena mereka memiliki konsep iman yang benar tentang siapa Yesus dalam hidup mereka. Yesus adalah pemegang otoritas atas dunia ini, apapun yang menghalangi di dalam pelayanan tidak boleh mematikan iman mereka/kita kepada Tuhan, bahwa Dia sanggup untuk membukakan pintu bagi kita untuk melayani Dia. Rintangan akan tetap ada dalam melayani, tetapi Tuhan akan tetap menyertai kita asalkan (syarat) kita menuruti firman-Nya.
Demikian juga dengan kita ditempat ini, kita bukanlah gereja yang besar dan kuat. Kita bukan gereja yang memiliki dana yang besar untuk menginjili. Kita tidak memiliki kemampuan untuk menyampaikan Injil Tuhan dengan baik. Tetapi dari semua kelemahan dan kekurangan itu, tidak boleh serta merta membuat kita membuang kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita. Dengan kekuatan yang tidak seberapa yang kita miliki kita harus tetap taat untuk menggunakan kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita untuk melayani Dia.
Dalam menaati Tuhan, kita membutuhkan iman yang benar-benar kuat kepada Tuhan.
2. Perlawanan dari orang Yahudi
Wahyu 3:9, “Lihatlah, beberapa orang dari jemaah Iblis, yaitu mereka yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, melainkan berdusta, akan Kuserahkan kepadamu. Sesungguhnya Aku akan menyuruh mereka datang dan tersungkur di depan kakimu dan mengaku, bahwa Aku mengasihi engkau.”
Jemaat Filadelfia juga mengalami rintangan dari orang-orang Yahudi yang ada di kota itu. Orang-orang ini menentang semua kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh jemaat Filadelfia. Mereka berusaha menekan mereka dengan berbagai cara untuk mengehentikan segala tindakan pemberitaan Injil Kristus. Jika kita renungkan dengan baik, perlawanan dari orang Yahudi ini sebenarnya merupakan perlawanan dari Jemaah Iblis, seperti yang di ungkapkan oleh Yesus dalam ayat 9. Iblis berusaha membuat rintangan demi rintangan dalam kehidupan orang percaya, agar mereka lemah dan merasa bahwa tidak ada peluang lagi untuk memberitakan Injil, Sehingga mereka hanya berdiam diri dan melewatkan kesempatan yang Tuhan berikan dengan alasan tidak adanya jalan untuk memberitakan Injil di kota itu.
Orang2 Yahudi pada zaman itu berusaha untuk mengeluarkan orang percaya dari sinagoge, menyebarkan berita dusta, mempenjarakan mereka dan melakukan penganiayaan agar berita tentang Yesus tidak disampaikan. Ancaman-ancaman seperti ini mereka tunjukan kepada jemaat filadelfia.
Tetapi jemaat Filadelfia dalam kekuatan yang tidak seberapa berusaha untuk tetap taat dan percaya pada Yesus. Sehingga Tuhan memuji mereka pada ay.10, “karena engkau menuruti firman-Ku, untuk tekun menantikan Aku…” Jemaat ini telah terbukti dengan setia taat kepada Tuhan meskipun mereka di perhadapkan dengan perlawanan Iblis melalui orang-orang Yahudi.
Demikian juga dengan kita saat ini, walaupun banyak ancaman-ancaman di dalam kepercayaan kita sebagai orang Kristen, kita tidak boleh mundur dari pelayanan kita untuk menyatakan Injil Tuhan. Banyak rintangan memang yang akan kita hadapi, namun kita tidak boleh melihat kepada rintangan itu. Kita harus memiliki iman yang kuat untuk tidak menyangkal nama Tuhan, tetapi mempercayai Yesus sebagai pemegang atas segala sesuatu di dunia ini. Jika Yesus yang membuka pintu tidak ada seorang pun yang dapat menutupnya. Jika Yesus yang membuka kesempatan kepada kita untuk melayani tidak ada seorang pun dapat menutup kesempatan tersebut. Meskipun banyak rintangan, Tuhan akan tetap memberikan kekuatan kepada kita untuk melaluinya.
Kita harus terlebih taat kepada Tuhan dan menjalankan setiap perintah-Nya dengan kepercayaan bahwa Tuhan akan selalu melindungi kita dari segala macam perbuatan Iblis. Dengan kekuatan kita yang tidak seberapa, mari kita tetap taat dengan bergantung sepenuhnya kepada kekuatan TUHAN.
Jemaat Filadelfia (Wahyu 3:7-13)
Kota Filadelfia adalah kota diprofinsi Roma wilayah Asia. Tepatnya di sebelah barat dari daerah yang dinamakan dengan TURKI sekarang. Pada tahun 17 M, kota Filadelfia dilanda gempa yang besar dan merusak kota itu dengan sangat parah. Sehingga banyak dari penduduknya yang mengungsi kepinggiran kota.
Kota ini terkenal karena banyaknya candi dan pesta-pesta keagamaan. Sehingga kota ini juga diesbut sebagai ‘Athena kecil’.
Filadelfia berasal dari kata Yunani Philadelpheia, kata ini berasal dari kata Philadelphia yang berarti ‘kasih terhadap saudara (seiman)’/Philadelphos yang berarti ‘yang mengasihi saudara (seiman).’ Nama kota ini diambil dari nama adik dari pendiri kota Filadelfia (raja Pergamus Emenus II) yaitu (Raja Attalus II) Filadelfus yang begitu taat kepada raja Emenus II. Hal ini dapat disamakan dengan ketaatan dari jemaat Filadelfia kepada Kristus. Jemaat Filadelfia begitu mengasihi Tuhan melalui kehidupan mereka, walaupun mereka tidak begitu kuat (secara fisik, ekonomi, dan berada dalam tekanan-tekanan org Yahudi) namun mereka berusaha untuk tetap taat kepada Tuhan. Sehingga dalam suratnya jemaat Filadelfia tidak dicela oleh Tuhan, tetapi dipuji dan dikuatkan oleh Tuhan.
Karena banyaknya penyembahan berhala di dalam kota Filadelfia, dan ritual-ritual keagamaan, maka pada pembukaan dari surat kepada jemaat Filadelfia Yesus menunjukkan jati diri sebagai Allah.
Yesus menyatakan diri sebagai ‘Yang Kudus’. Hal ini menunjukkan jati diri-Nya sebagai Allah Yang Kudus. Yang terpisah dari hal-hal yang berdosa dan merupakan Allah satu-satunya yang tidak dapat dibandingkan oleh apapun di dunia ini.
Yesus juga menyatakan dirinya sebagai ‘Yang Benar’. Ia adalah Allah yang asli, bukan tiruan, bukan patung atau buatan manusia. Ada ratusan allah palsu pada masa itu, tetapi hanya Yesus Kristus yang benar-benar Allah sejati. Allah yang dapat dipercaya, yang bila berjanji maka janji itu pasti dapat dipegang dan dipercayai oleh jemaat Filadelfia.
Yesus juga menyatakan dirinya sebagai ‘yang memgang kunci Daud’. Hal ini menunjuk kepada keberadaan Yesus sebagai Daud yang memiliki otoritas sebagai Raja atas dunia dan akhirat ini. Pemegang Kunci Daud menunjukkan kepada Yesus yang berhak membuka pintu kerajaan Allah bagi siapapun yang Dia inginkan. Ia memiliki ototritas sebab Ia adalah pemegang kunci kerajaan surga dan kerajaan maut. Walaupun kekuatan jemaat itu tidak seberapa dan keadaan jemaat itu ditindas di dalam pelayanan mereka, namun Tuhan Yesus tetap menyatakan otoritasnya sebagai pemegang kunci Daud. Yesaya 22:22, “Aku akan menaruh kunci rumah Daud ke atas bahunya: apabila ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.”
Ayat 8. Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah MEMBUKA PINTU BAGIMU, yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku.
Yesus menyatakan kepada jemaat filadelfia bahwa ‘Dia telah membuka pintu bagi mereka’. Dalam perjanjian baru ‘Pintu yang terbuka’ menunjukkan kepada kesempatan untuk pelayanan. Hal ini dapat kita lihat di dalam,
Kis. 14:27, “Setibanya di situ mereka memanggil jemaat berkumpul, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka, dan bahwa Ia telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman.”
1 Kor. 16:9,” sebab di sini banyak kesempatan bagiku untuk mengerjakan pekerjaan yang besar dan penting, sekalipun ada banyak penentang.”
2 Kor.2:12, “Ketika aku tiba di Troas untuk memberitakan Injil Kristus, aku dapati, bahwa Tuhan telah membuka jalan untuk pekerjaan di sana.”
Kol.4:3, “Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan.”
Yesus adalah kepala gereja, dan Dialah yang memberikan setiap kita kesempatan dan membukakan setiap pintu-pintu hati orang-orang yang belum percaya untuk menerima Injil Tuhan. Ia memberikan kesempatan yang besar bagi jemaat di Filadelfia untuk melayani dan memberitakan Injil. Ia pun memberikan kesempatan kepada kita disini untuk melayani dan memberitakan Injil kepada orang yang belum percaya.
Dengan Otoritas-Nya Tuhan menyatakan bahwa Dia adalah penentu segala keberhasilan kita di dalam pelayanan. Sebab hanya Dia yang dapat membuka dan menutup kesempatan kita untuk melayani Dia. Namun dengan kesempatan yang begitu besar yang Tuhan berikan kepada jemaat di Filadelfia, dapatkah mereka menjalani kesempatan pelayanan ini dengan baik. Sebab Tuhan berkata, Dia sudah membukakan pintu bagi mereka untuk melayani.
Bukan berarti karena Tuhan telah membuka pintu bagi mereka, maka perjalanan pelayanan mereka akan menjadi mulus tanpa rintangan. Memang Tuhan telah menyatakan bahwa Dia telah membuka kesempatan kepada mereka untuk melayani, tetapi tidak menyatakan bahwa mereka akan melayani tanpa rintangan. Bagi jemaat Filadelfia ini tidaklah mudah, sebab dalam kesempatan yang telah Tuhan berikan kepada mereka, jemaat Filadelfia masih harus menghadapi dua rintangan di dalam pelayanan mereka.
Demikian juga dengan kita, Tuhan membuka kesempatan bagi kita untuk melayani Dia. Tetapi bukan berarti kita akan dapat melayani dengan baik-baik saja atau tanpa rintangan. Akan banyak rintangan yang dihadapi dalam pelayanan, tetapi Tuhan berjanji akan selalu melindungi dan menyertai kita semua dalam pelayanan kita. (ay.10).
Apa saja rintangan yang mereka hadapi :
1. Kekuatan yang tidak seberapa
Wahyu 3:8, “Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku.”
Tuhan adalah Tuhan yang mengetahui segala pekerjaan dan keadaan kita di dalam melayani Tuhan.
Wahyu 2:2, “Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu…” (J. Efesus)
Wahyu 2:9, “Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu…” (J. Smirna)
Wahyu 2:13, “Aku tahu di mana engkau diam, yaitu di sana, di tempat tahta Iblis…” (J. Pergamus)
Wahyu 2:19, “Aku tahu segala pekerjaanmu: baik kasihmu maupun imanmu, baik pelayananmu maupun ketekunanmu…” (J. Tiatira)
Wahyu 3:1, “Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati…” (J. Sardis)
Wahyu 3:8, “Aku tahu segala pekerjaanmu: Lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat di tutup oleh seorang pun…” (J. Filadelfia)
Wahyu 3:15, “Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas.” (J. Laodikia)
Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak pernah menutup mata atas segala sesuatu yang kita kerjakan di dunia ini. Yesus mengetahui bahwa Jemaat Filadelfia tidak terlalu kuat di dalam menjalani kesempatan pelayanan yang Tuhan berikan kepada mereka. Tetapi mereka berusaha untuk tetap mengerjakan pelayanan itu, meskipun kekuatan mereka tidak seberapa.
Sebenarnya bagaimana keadaan jemaat disana, sehingga mereka dikatakan tidak terlalu kuat?
Jemaat di Filadelfia bukanlah jemaat yang besar dan kuat. Bisa dikatakan bahwa mereka tidak memiliki kekuatan ekonomi gereja untuk mendanai kegiatan PI, tetapi mereka tetap berusaha bagaimana caranya dengan apa yang ada pada mereka, mereka gunakan untuk melakukan pelayanan pemberitaan Injil Tuhan. Mereka dibatasi oleh kekuasaan romawi pada waktu itu untuk memberitakan Injil, mereka berada di bawah tekanan dari kekuasaan Negara Romawi. Namun dengan kekuasaan yang tidak banyak mereka berusaha untuk tetap memberitakan Injil yang disertai oleh kuasa Tuhan. Tidak terlalu kuat, namun mereka taat kepada perintah Tuhan untuk melayani.
Mengapa Jemaat Filadelfia ini tetap taat meskipun mereka tidak terlalu kuat?
Karena mereka memiliki konsep iman yang benar tentang siapa Yesus dalam hidup mereka. Yesus adalah pemegang otoritas atas dunia ini, apapun yang menghalangi di dalam pelayanan tidak boleh mematikan iman mereka/kita kepada Tuhan, bahwa Dia sanggup untuk membukakan pintu bagi kita untuk melayani Dia. Rintangan akan tetap ada dalam melayani, tetapi Tuhan akan tetap menyertai kita asalkan (syarat) kita menuruti firman-Nya.
Demikian juga dengan kita ditempat ini, kita bukanlah gereja yang besar dan kuat. Kita bukan gereja yang memiliki dana yang besar untuk menginjili. Kita tidak memiliki kemampuan untuk menyampaikan Injil Tuhan dengan baik. Tetapi dari semua kelemahan dan kekurangan itu, tidak boleh serta merta membuat kita membuang kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita. Dengan kekuatan yang tidak seberapa yang kita miliki kita harus tetap taat untuk menggunakan kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita untuk melayani Dia.
Dalam menaati Tuhan, kita membutuhkan iman yang benar-benar kuat kepada Tuhan.
2. Perlawanan dari orang Yahudi
Wahyu 3:9, “Lihatlah, beberapa orang dari jemaah Iblis, yaitu mereka yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, melainkan berdusta, akan Kuserahkan kepadamu. Sesungguhnya Aku akan menyuruh mereka datang dan tersungkur di depan kakimu dan mengaku, bahwa Aku mengasihi engkau.”
Jemaat Filadelfia juga mengalami rintangan dari orang-orang Yahudi yang ada di kota itu. Orang-orang ini menentang semua kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh jemaat Filadelfia. Mereka berusaha menekan mereka dengan berbagai cara untuk mengehentikan segala tindakan pemberitaan Injil Kristus. Jika kita renungkan dengan baik, perlawanan dari orang Yahudi ini sebenarnya merupakan perlawanan dari Jemaah Iblis, seperti yang di ungkapkan oleh Yesus dalam ayat 9. Iblis berusaha membuat rintangan demi rintangan dalam kehidupan orang percaya, agar mereka lemah dan merasa bahwa tidak ada peluang lagi untuk memberitakan Injil, Sehingga mereka hanya berdiam diri dan melewatkan kesempatan yang Tuhan berikan dengan alasan tidak adanya jalan untuk memberitakan Injil di kota itu.
Orang2 Yahudi pada zaman itu berusaha untuk mengeluarkan orang percaya dari sinagoge, menyebarkan berita dusta, mempenjarakan mereka dan melakukan penganiayaan agar berita tentang Yesus tidak disampaikan. Ancaman-ancaman seperti ini mereka tunjukan kepada jemaat filadelfia.
Tetapi jemaat Filadelfia dalam kekuatan yang tidak seberapa berusaha untuk tetap taat dan percaya pada Yesus. Sehingga Tuhan memuji mereka pada ay.10, “karena engkau menuruti firman-Ku, untuk tekun menantikan Aku…” Jemaat ini telah terbukti dengan setia taat kepada Tuhan meskipun mereka di perhadapkan dengan perlawanan Iblis melalui orang-orang Yahudi.
Demikian juga dengan kita saat ini, walaupun banyak ancaman-ancaman di dalam kepercayaan kita sebagai orang Kristen, kita tidak boleh mundur dari pelayanan kita untuk menyatakan Injil Tuhan. Banyak rintangan memang yang akan kita hadapi, namun kita tidak boleh melihat kepada rintangan itu. Kita harus memiliki iman yang kuat untuk tidak menyangkal nama Tuhan, tetapi mempercayai Yesus sebagai pemegang atas segala sesuatu di dunia ini. Jika Yesus yang membuka pintu tidak ada seorang pun yang dapat menutupnya. Jika Yesus yang membuka kesempatan kepada kita untuk melayani tidak ada seorang pun dapat menutup kesempatan tersebut. Meskipun banyak rintangan, Tuhan akan tetap memberikan kekuatan kepada kita untuk melaluinya.
Kita harus terlebih taat kepada Tuhan dan menjalankan setiap perintah-Nya dengan kepercayaan bahwa Tuhan akan selalu melindungi kita dari segala macam perbuatan Iblis. Dengan kekuatan kita yang tidak seberapa, mari kita tetap taat dengan bergantung sepenuhnya kepada kekuatan TUHAN.
Langganan:
Postingan (Atom)


